Posted by: Muhammad Thohir | مارس 28, 2008

Silabus Bahasa Arab: Definisi Operasional dan Ragamnya

 

Sebelum mengkaji lebih lanjut bagaimana guru bahasa Arab dalam mengembangkan kompetensi dasar, di sini perlu dipertegas terlebih dulu apa arti silabus. Istilah tersebut dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang baru. Namun demikian, batasan pengertian silabus dalam pustaka-pustaka mutakhir agak sulit didapati. Istilah silabus dalam bahasa Arab sendiri diterjemahkan beragam, ada yang diterjemahkan dengan muqarrar dirasi, tapi ada juga yang menerjemahkan dengan manhaj. Sementara dalam pustaka berbahasa lainnya kata manhaj diacu dalam makna kurikulum (Sini, 1982, Tu’aimah,1989). Tidak sedikit orang yang bingung antara makna silabus dengan kurikulum. Ada sebagian yang memandang jika berbicara silabus, berarti membicarakan kurikulum. Silabus dan kurikulum adalah sama. Namun sebagaian yang lain memandang berbeda.Robetson (1987)memandang kurikulum sebagai maksud, tujuan, isi, proses, sumber daya, evaluasi dan semua tang terkait dalam pendidikan, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Jadi, silabus hanya merupakan penjabaran dari setiap kurikulum tersebut. Nunan (1988) melihat silabus sebagai rincian atau spesifiksi bahan yang akan diajarkan dalam sebuah program pengajaran, termasuk susunan materi dan urutan pengajarannya.Pernyataan Nunan ini hampir seirama dengan Sini. Dalam menyusun sebuah silabus, dia memberikan dua pertanyaan, yaitu (1) apa yang harus disampaikan pada sebuah sesi, (2) sejauhmana batasan unsur-unsur bahasa yang harus disertakan. Yang pertama mengindikasikan jenis materi, sedangkan yang kedua mengindikasikan urutan materi. Sementara Tu’aimah, menegaskan makna silabus dalam empat unsur, yaitu pembahasan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi.  Kendati Tu’aimah memberikan batasan yang agak cenderung sama dengan Robetson, namun pada hakikat silabus dan kurikulum tetap berbeda. Pembahasan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi dalam silabus hanya merujuk pada satu mata pelajaran saja, sedangkan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi dalam kurikulum bersifat umum, untuk semua mata pelajaran.Khusus dalam pembelajaran bahasa Arab, dalam Tu’aimah, konstruk silabus terbagi dalam beberapa ragam misalnya 1. silabus binyawi (struktural), 2. Silabus mawqifi (situasi onal), 3. sillabus fikri (nosional), dan 4.silabus mut’addid al- ab’ad (multidimensional). Silabus binyawi mencakup bagaimana penyajian bahasa Arab berlangsung menurut tema-tema qawa’id dan sharf. Qawa’id menjadi sandaran utama pelajaran. Dalam silabus ini harus diperhatikan beberapa poin sebagai berikut.1.        Pola kalimat, maksudnya jenis kalimat dari segi makna dan penuturannya seperti bagaimana bentuk kalimat berita, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat permohonan dan lain-lain.2.        Topik nahwu, maksudnya adalah  pemahaman gramatika yang muncul dalam sebuah kalimat tertentu pada setiap babnya, seperti bab mubtada-khabar, bab maf’ul bih, bab idlofah dan lain-lain.3.      Susunan bahasa, maksudnya nama-nama kedudukan kata dalam sebuah kalimat seperti fi’il + fa’il + maf’ulbih.Silabus jenis ini mengabaikan kebutuhan siswa dalam berkomunikasi dan berinterakasi dengan menggunakan bahasa Arab. Silabus ini lebih mengutamakan pengetahuan tentang bahasa Arab.   Sedangkan dalam silabus kedua (manhaj al mawaqif), pelajaran bahasa Arab disandarkan kepada realitas sosial yang terdiri dari berbagai macam situasi dalam berkomuniaksi. Tema-tema situasional seperti dalam sebuah bis kota, di kantin, di perpustakaan, di kelas, di laboratorium , di lapangan dan lain-lain harus diperhatikan, atau diambil sebagai bagian dari materi pelajaran bahasa Arab. Siswa akan belajar menggunakan bahasa Arab dalam berbagai macam situasi. Tidak hanya memahami kaidah struktur bahasa, tetapi menggunakannya dalam situasi yang berbeda-beda.Adapun silabus nosional (manhaj al-fikrah), materi bahasa Arab dipilih berdasarkan acuan makna yang terkandung dalam sebuah pola tutur. Pemilihan kosakata dilakukan dengan mempertimbangkan jenis fungsi ujaran atau tindak ujarnya (al-a’mal al-kalamiyah). Tidak setiap ujaran mencerminkan makna seperti yang ada pada sebuah pola kalimat. Ada pola kalimat perintah, tetapi fikrah (nosi)nya dalai larangan. Ada kalimat berita, tetapi yang dimaksudkan sebenarnya perintah. Demikian, siswa dibawa ke dalam pembelajaran bahasa  Arab dengan pola-pola penafsiran terhadap makna sebuah ujaran. Yang terakhir, silabus multidimensional (muta’addid al-ab’ad) yaitu silabus pengajaran bahasa Arab yang lebih melihat banyak dimensi sebagai sandaran dalam penyusunan materi. Silabus ini memperhatikan aspek-aspek seperti kebahasaan dan pengajarannya, aspek komunikatif, sosial dan budaya.


[i] 


اترك رداً

ردك:

التصنيفات