Posted by: Muhammad Thohir | أبريل 3, 2008

The Dollar Kid: Si anak hilang

Baru-baru ini, masyarakat dikagetkan oleh hilangnya seorang pelajar SD berusia 9 tahun di Depok, Jawa Barat.  Hilangnya anak itu juga dibarengi dengan lenyapnya uang milik orang tuanya yang berprofesi sebagai notaris, sebesar US$ 10 ribu (± Rp 93 juta). Spekulasi awal pihak berwajib menyebutkan anak itu sebagai korban penculikan. Seorang Satpam pun sempat ditahan. Beberapa hari kemudian, si anak ditemukan di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ahmad Legal Cifani alias Vian, si anak hilang itu bersama orang tuanya lalu diperiksa di Markas Kepolisian Sektor Limo, Depok, Jawa Barat. Yang mengejutkan, ternyata Vian tidak diculik. Anak yang disebut oleh beberapa media dengan the dollar kid itu lari dengan puluhan ribu dolar dari rumah karena habis dimarahi orang tuanya. Menurut salah beberapa sumber TV swasta nasional, Vian hilang setelah ibunya, Vivi, menyuruhnya belajar. Karena Vian tak mau belajar, Vivi lantas memarahinya. Namun, keesokan paginya anak itu sudah tak lagi di rumah.

Setelah ditemukan, untuk menghilangkan stres, orang tuanya dikabarkan membawa putranya itu ke sebuah vila di Puncak, Jawa Barat. Kendati demikian, peristiwa itu menyisakan rasa gundah dan cemas bagi para orang tua lainnya. Entah bagaimana menyikapi dan memahami pelajaran apa  di balik kasus ini.

Ayo berikan komentar anda!

Posted by: Muhammad Thohir | مارس 28, 2008

Silabus Bahasa Arab: Definisi Operasional dan Ragamnya

 

Sebelum mengkaji lebih lanjut bagaimana guru bahasa Arab dalam mengembangkan kompetensi dasar, di sini perlu dipertegas terlebih dulu apa arti silabus. Istilah tersebut dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang baru. Namun demikian, batasan pengertian silabus dalam pustaka-pustaka mutakhir agak sulit didapati. Istilah silabus dalam bahasa Arab sendiri diterjemahkan beragam, ada yang diterjemahkan dengan muqarrar dirasi, tapi ada juga yang menerjemahkan dengan manhaj. Sementara dalam pustaka berbahasa lainnya kata manhaj diacu dalam makna kurikulum (Sini, 1982, Tu’aimah,1989). Tidak sedikit orang yang bingung antara makna silabus dengan kurikulum. Ada sebagian yang memandang jika berbicara silabus, berarti membicarakan kurikulum. Silabus dan kurikulum adalah sama. Namun sebagaian yang lain memandang berbeda.Robetson (1987)memandang kurikulum sebagai maksud, tujuan, isi, proses, sumber daya, evaluasi dan semua tang terkait dalam pendidikan, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Jadi, silabus hanya merupakan penjabaran dari setiap kurikulum tersebut. Nunan (1988) melihat silabus sebagai rincian atau spesifiksi bahan yang akan diajarkan dalam sebuah program pengajaran, termasuk susunan materi dan urutan pengajarannya.Pernyataan Nunan ini hampir seirama dengan Sini. Dalam menyusun sebuah silabus, dia memberikan dua pertanyaan, yaitu (1) apa yang harus disampaikan pada sebuah sesi, (2) sejauhmana batasan unsur-unsur bahasa yang harus disertakan. Yang pertama mengindikasikan jenis materi, sedangkan yang kedua mengindikasikan urutan materi. Sementara Tu’aimah, menegaskan makna silabus dalam empat unsur, yaitu pembahasan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi.  Kendati Tu’aimah memberikan batasan yang agak cenderung sama dengan Robetson, namun pada hakikat silabus dan kurikulum tetap berbeda. Pembahasan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi dalam silabus hanya merujuk pada satu mata pelajaran saja, sedangkan tujuan, materi, penyajian, dan evaluasi dalam kurikulum bersifat umum, untuk semua mata pelajaran.Khusus dalam pembelajaran bahasa Arab, dalam Tu’aimah, konstruk silabus terbagi dalam beberapa ragam misalnya 1. silabus binyawi (struktural), 2. Silabus mawqifi (situasi onal), 3. sillabus fikri (nosional), dan 4.silabus mut’addid al- ab’ad (multidimensional). Silabus binyawi mencakup bagaimana penyajian bahasa Arab berlangsung menurut tema-tema qawa’id dan sharf. Qawa’id menjadi sandaran utama pelajaran. Dalam silabus ini harus diperhatikan beberapa poin sebagai berikut.1.        Pola kalimat, maksudnya jenis kalimat dari segi makna dan penuturannya seperti bagaimana bentuk kalimat berita, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, kalimat permohonan dan lain-lain.2.        Topik nahwu, maksudnya adalah  pemahaman gramatika yang muncul dalam sebuah kalimat tertentu pada setiap babnya, seperti bab mubtada-khabar, bab maf’ul bih, bab idlofah dan lain-lain.3.      Susunan bahasa, maksudnya nama-nama kedudukan kata dalam sebuah kalimat seperti fi’il + fa’il + maf’ulbih.Silabus jenis ini mengabaikan kebutuhan siswa dalam berkomunikasi dan berinterakasi dengan menggunakan bahasa Arab. Silabus ini lebih mengutamakan pengetahuan tentang bahasa Arab.   Sedangkan dalam silabus kedua (manhaj al mawaqif), pelajaran bahasa Arab disandarkan kepada realitas sosial yang terdiri dari berbagai macam situasi dalam berkomuniaksi. Tema-tema situasional seperti dalam sebuah bis kota, di kantin, di perpustakaan, di kelas, di laboratorium , di lapangan dan lain-lain harus diperhatikan, atau diambil sebagai bagian dari materi pelajaran bahasa Arab. Siswa akan belajar menggunakan bahasa Arab dalam berbagai macam situasi. Tidak hanya memahami kaidah struktur bahasa, tetapi menggunakannya dalam situasi yang berbeda-beda.Adapun silabus nosional (manhaj al-fikrah), materi bahasa Arab dipilih berdasarkan acuan makna yang terkandung dalam sebuah pola tutur. Pemilihan kosakata dilakukan dengan mempertimbangkan jenis fungsi ujaran atau tindak ujarnya (al-a’mal al-kalamiyah). Tidak setiap ujaran mencerminkan makna seperti yang ada pada sebuah pola kalimat. Ada pola kalimat perintah, tetapi fikrah (nosi)nya dalai larangan. Ada kalimat berita, tetapi yang dimaksudkan sebenarnya perintah. Demikian, siswa dibawa ke dalam pembelajaran bahasa  Arab dengan pola-pola penafsiran terhadap makna sebuah ujaran. Yang terakhir, silabus multidimensional (muta’addid al-ab’ad) yaitu silabus pengajaran bahasa Arab yang lebih melihat banyak dimensi sebagai sandaran dalam penyusunan materi. Silabus ini memperhatikan aspek-aspek seperti kebahasaan dan pengajarannya, aspek komunikatif, sosial dan budaya.


[i] 

Posted by: Muhammad Thohir | مارس 6, 2008

القلق: العدو الغامض!

takut.jpg

هل رأيت أن ملايين من البشر يزعجهم عدو غامض يفتك بهم فتكا؟! ومما يلفت النظر في هذا العدو أنه يؤكد الأطباء بمقدوره إصابة الشخص بالعديد من الأمراض العضوية وحتى إذا لم يسبب مثلها فإنه ينهك قوانا ويلتهم نشاطنا بطريقة غير مجدية. هاهو القلق الذي لا ينفع معه أي عقار من العقاقير السحرية فإن الشفاء مضمون على يد الشخص الذي يعاني منه، فإذا أمكننا معرفة كيف نراقب طرق تفكيرنا أمكننا وضع القلق في موضعه وجعل العالم الذي نعيش فيه بهيجا بدلا من جعله كئيبا. ولكي نؤمن تحقيق هذه المراقبة ينبغي القضاء على الاعتقاد الشائع وهو أن القلق ميزة الضعيف والفاشل، فعلى النقيض يمكن أن يكون القلق دلالة من دلائل القوة وبرهانا على أن المرء بحياته لأنه يود أن يحقق في حياته هدفا ذا شأن. وكثيرا من العظماء الذين حققوا للبشرية العديد من الخدمات العظيمة وكانوا دائما مضطرين قلقين إلا أنهم كانوا على بينة من ذلك فكانوا في بعض مراحل حياتهم يتغلبون على قلقهم. (من سارة بنت محمد الشهراني – طالبة في كلية علم النفس- بتصرف)

حسب ما شكاه أحمد بن علي الغامدي، وهوطالب في كلية العلوم الاجتماعية لجامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية. فمن المعروف أن كثيرا ما ترى العديد من الطلاب يعانون من مشكلة عدم الاستفادة من مكتبة الجامعة يومي الخميس والجمعة، وهذا بدوره قد تسبب في حرمان الطلاب من التزود الثقافي والبحث العلمي لأنه في أيام الدوام الرسمي لا يستطيع الطالب أن يرجع للمكتبة لأنه إما مشغول بمذاكرة المواد الدراسية المقررة أو بعض الالتزامات الأخرى. ولأن بعض الطلاب لا يجد مكتبة يومي الخميس والجمعة تكون متاحة للإطلاع والبحث عن الكتب التي يريدها رغم أن المكتبة كانت متاحة للإطلاع والبحث قبل مدة ليست بالطويلة. والطلاب يتساءلون لماذا يتم إقفال المكتبة يومي الخميس والجمعة رغم حاجتنا للاستفادة من خدماتها، والإطلاع على ما فيها من كتب. بذلك  فإنهم يرجون من المسؤولين في الجامعة أن يلبوا رغبة الكثير من الطلاب بفتح المكتبة يومي الخميس والجمعة ولو ساعات قليلة كي نتمكن من الرجوع لها والاستفادة من كتبها القيمة.

التصنيفات